PERANGI KORUPSI DENGAN LOMPATAN KEIMANAN? Sebuah Refleksi Filosofis atas Konsep Lompatan Keimanan Søren Kierkegaard

Posted: May 23, 2010 in Filsafat
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Koesno Sutardji adalah salah seorang perwira tinggi kepolisian yang masih aktif. Belakangan ini namanya semakin beken, berita tentang dirinya gencar di berbagai media massa. Berawal dari keterlibatannya dalam seteru antara kepolisian dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), yang memaksanya melepas jabatan Kabareskrim (Kepala Badan Reserse dan Kriminal). Koesno kini berbalik “menyerang” institusinya sendiri. Dari kesaksiannya terungkap informasi yang berhasil membongkar beberapa kasus korupsi mafia hukum yang juga melibatkan oknum-oknum kepolisian. Plot demi plot, kisah itu bergulir bagaikan melodrama yang mampu menarik perhatian khalayak. Sepak-terjang Koesno ternyata berujung cukup tragis, karena sekarang Koesno pun ditahan oleh kepolisian dengan tuduhan yang sama, yakni telah menerima suap dari oknum mafia yang ingin ia bongkar kasus kejahatan korupsinya.

Berbagai tanggapan spekulatif dari publik mulai bermunculan. Ada yang berasumsi semua itu hanya persoalan balas dendam, Koesno dendam pada kepolisian karena kehilangan jabatan. Polisi juga dendam kepada Koesno, karena dianggap “menistakan” nama kepolisian (baca: membeberkan keburukan oknum-oknum kepolisian). Ada pula yang menduga bahwa di balik semua kejadian itu sebenarnya ada motif-motif politis. Sebagian menganggap bahwa Koesno memang orang “bersih” yang sengaja dijadikan korban karena melawan kejahatan terorganisir. Yang lain berpendapat bahwa Koesno sendiri adalah bagian dari jaringan mafia tersebut, yang karena sakit hati tak kebagian jatah, lantas ia “bernyanyi”. Terlepas dari asumsi mana yang paling benar, namun, kisah (setengah-)fiktif di atas dapat menjadi sebuah ilustrasi menarik untuk melakukan sebuah refleksi filosofis.

Søren Aabye Kierkegaard (1813-1855)

Søren Aabye Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf asal Denmark menggunakan metafora Lompatan Keimanan (leap of faith)—dalam tulisannya Afsluttende uvidenskabelig Efterskrift (1846; Concluding Unscientific Postscript). Yang ia maksud dengan Lompatan Keimanan itu secara general adalah penggambaran suatu posisi filosofis ataupun kondisi psikologis dari seorang individu dimana ia telah berhasil mencapai tahapan kepribadian yang sangat matang; transenden (mengatasi nilai-nilai moral universal). Dengan mencapai tahap Lompatan Keimanan maka individu itu  akan mampu mengambil suatu keputusan yang benar tetapi bukan lagi karena didasari oleh nilai-nilai moral umum, melainkan justru atas dasar keimanannya itu sendiri (yang subyektif, transenden dan irasional). Kierkegaard mengilustrasikan tahap kematangan tersebut sebagaimana kisah Abraham yang karena Lompatan Keimanannya bersedia memenuhi permintaan Allah untuk mengorbankan Isaac, anak lelaki kesayangannya, meskipun “menyembelih” anaknya sendiri itu bertentangan dengan nilai-nilai moral secara umum, bahkan kecintaannya terhadap anaknya Isaac. (dalam Frygt og baeven [1843; Fear and Trembling])

Bagi Kierkegaard, setiap manusia semestinya melewati tiga tahap dalam hidupnya, yakni tahap Estetis; Etis; dan Religius (Lompatan Keimanan). Pada tahap Estetis, individu akan berlaku sebagaimana digambarkan lewat karakter Don Juan yang selalu mengejar kesenangan/kepuasan duniawi—kata estetik disini mengacu pada pencerapan secara indrawi—untuk mendapatkan nilai eksistensi dirinya. Tahap kedua adalah sebuah Lompatan Etis, pada tahap ini individu akan merasa mendapatkan eksistensinya dengan mendasarkan tindakan-tindakannya pada nilai-nilai moral universal; (etika: pertimbangan-pertimbangan moral universal dalam kerangka benar atau salah) tokoh yang sering dipakai sebagai contoh tahap ini adalah Socrates (380-450). Tahap Religius adalah tahapan terakhir yang juga disebut sebagai tahap Lompatan Keimanan sebagaimana dicontohkan lewat kisah Abraham. Pada tahap ini, individu mendapatkan eksistensinya yang utuh yakni keberadaan yang unik; (berbeda antara satu sama lain) subyektif, transenden, bahkan irasional (mengalami kegilaan Ilahiah). Maka setiap individu yang telah mencapai tahap Religius akan akan mampu mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas segala tindakannya itu sendiri; tanpa dipengaruhi oleh “paksaan” dari luar dirinya sebagai subyek yang utuh; (misalnya tekanan dari nilai-nilai moral masyarakat, agama, dsb.). Karena itu, Kierkegaard juga di daulat sebagai pelopor filsafat eksistensialisme (lebih tepatnya eksistensialisme-religius). Jika individu-individu tak mampu melakukan lompatan-lompatan tersebut menurut Kierkegaard, maka mereka akan hidup dalam keadaan terfragmentasi (fragmented). Dengan demikian, Kierkegaard sekaligus telah mengkritik gagasan besar dialektik Hegelian yang meyakini bahwa segala bentuk dinamika (zeit geist)—termasuk keimanan—dalam realitas itu selalu memiliki dasar rasionalitas dan nilai-nilai universal.

Sebagaimana manusia pada umumnya, Koesno Sutardji tentu juga pernah mengalami tahap Don Juan (Estetis). Pangkat yang telah dicapainya sebagai perwira tinggi kepolisian setidaknya telah menyiratkan bahwa ia memang memiliki hasrat yang cukup besar untuk pencapaian-pencapaian estetis (duniawi). Mungkin saja hasrat itu yang justru telah mendorongnya membulatkan tekad untuk meniti karir di bidang kepolisian hingga ia berhasil mencapai kondisi seperti sekarang. Profesi sampingan Koesno sebagai pengusaha yang cukup sukses juga dapat saja kita artikan sebagai hasrat estetis-nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisik dan mengembangkannya dalam bentuk akumulasi modal kapital. Lompatan Etis mungkin juga telah dialami Koesno dalam kehidupannya. Sebagai penegak hukum dan keadilan semestinya Koesno adalah individu yang lebih memahami serta taat kepada aturan-aturan moral universal—termasuk aturan-aturan hukum yang tak lain adalah kesepakatan tertulis dimana nilai-nilai normatif demi kepentingan bersama termuat di dalamnya.

Kita bahkan dapat saja mengasumsikan bahwa Koesno juga sudah mencapai tahap Lompatan Keimanan atau tahap Religius. Semua orang tentu punya hak yang sama untuk berpendapat. Namun, jika kita beranggapan bahwa Koesno tengah mengalami Lompatan Keimanan, maka kita juga harus berani mengasumsikan bahwa semua tindakan Koesno itu bukanlah didasari atas dorongan dari luar dirinya, melainkan atas dasar keimanannya sendiri secara subyektif dan transenden. Yaitu bahwa ia yakin telah mengambil keputusan yang benar, bukan atas dasar nilai-nilai moral universal, melainkan atas dasar keyakinannya sendiri terhadap apapun yang ia anggap benar. Maka, secara eksistensial Koesno sudah semestinya siap mempertanggungjawabkan segala keputusannya itu, termasuk segala kemungkinan terburuk yang bakal menimpa dirinya.

Layaknya Abraham, Koesno tengah mengalami kegilaan Ilahiah yang justru disarankan oleh Kierkegaard. Jika Abraham bersedia mengorbankan Isaac demi Lompatan Keimanan-nya, maka “anak-kesayangan”  Koesno tak lain adalah jabatannya, pangkatnya, prestasi karirnya, kenyamanannya sebagai perwira tinggi, kecintaannya yang besar kepada institusi yang telah membesarkannya. Dengan kata lain, Isaac-nya Koesno adalah KEPOLISIAN itu sendiri.

Sekali lagi, terlepas dari benar atau salah, ini hanyalah sekedar ilustrasi untuk melakukan refleksi filosofis atas apa yang dimaksud Lompatan Keimanan oleh Kierkegaard. Tidak seorangpun yang tahu persis tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi, yang jelas saya yakin bahwa kebenaran itu bersifat niscaya, maka ia akan tetap muncul sekalipun melalui jalan yang irasional. Seperti pada saat Allah mengganjar keimanan Abraham, Dia menukar tubuh Isaac dengan hewan kurban, mungkinkah Dia juga akan mengganjar keimanan Koesno, dengan mewujudkan institusi kepolisian yang bersih dari korupsi? Hanya Allah yang maha tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s