* Makalah untuk acara Diskusi dan Bedah Film “Mengenal Mahatma Gandhi dan Perjuangannya”. Diadakan oleh Jurusan Sosiologi UNAS. 31 Mei 2006.

Sebagian besar orang percaya bahwa film merupakan media yang lebih mudah dan mengasyikkan untuk dinikmati dibandingkan media-media lain. Sebagai sebuah media, bagaimanapun bentuk dan gayanya, film tetaplah merupakan suatu produk dari kebudayaan manusia yang “mewakili” dan merepresentasikan nilai-nilai dari pandangan kelompok masyarakat tertentu, semangat jaman tertentu, dan sudah pasti ideologi tertentu. Semua itu sebenarnya merupakan elemen-elemen yang secara alamiah menjadi integral dalam setiap karya film.

Masalahnya, secara teknis media film memiliki cara-cara atau sistem tersendiri yang dipakai untuk mengemas pesan-pesan secara lebih halus. Hal ini  biasanya ditujukan sebagai semacam “garansi” untuk menjamin elemen-elemen integral tersebut dapat tersampaikan dengan baik kepada penontonnya. Pada tataran mainstream sistem ini bahkan sudah diformulakan dan diujicobakan sedemikian rupa, sehingga efisiensi dan efektifitas-nya dalam mempengaruhi penonton benar-benar telah terbukti keampuhannya. Mungkin hal ini pula yang menjadikan film jauh lebih identik sebagai media “hiburan” ketimbang sarana untuk mengakses informasi. Padahal dengan menonton film, sudah jelas kita dicekoki dengan berbagai informasi yang kita terima baik secara sadar maupun tidak, suka maupun tidak suka, kita inginkan ataupun tidak kita inginkan. Jadi, dengan menonton film sebenarnya kita telah “dipaksa” untuk menelan informasi-informasi yang terkandung dalam film tersebut, atau tepatnya pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya.

cinema_helmet (courtesy of http://www.bbc.co.uk)

Kondisi semacam inilah yang kemudian akan “menuntut” kita untuk bersikap lebih kritis terhadap media film. Kebanyakan orang hanya memberikan penilaian “baik atau buruk”, “suka atau tidak suka” terhadap tontonan (film) yang telah dikonsumsinya. Namun persoalannya tentu tidak selesai hanya sampai disini, terlebih ketika kita mencoba menggunakan media film sebagai “teks” untuk memahami sesuatu, seperti ideologi, atau paham dan perjuangan dari seorang tokoh tertentu misalnya. Dalam film yang (kita anggap) baik misalnya, belum tentu mengandung pesan yang sama baiknya seperti yang kita nobatkan kepada film tersebut secara fisikal, demikian juga dengan film yang (kita nilai) buruk, belum tentu pesan yang ingin disampaikan sama buruknya. Sampai disini, maka jelaslah mengapa kita memerlukan “perangkat” khusus untuk dapat “membaca” sebuah film dengan lebih jernih dan kritis.

Berikut ini akan diuraikankan secara singkat tentang beberapa landasan teori yang biasa digunakan sebagai “perangkat” untuk “membaca” media film:

Film sebagai Teks

Untuk dapat “membaca” muatan khusus, seperti misalnya ideologi dalam sebuah film, maka mau tak mau kita harus memperlakukannya sebagai teks. Namun memperlakukan film sebagai teks tidaklah sesederhana seperti kita membaca literatur (text book) yang menggunakan bahasa (tulisan) dengan tata-bahasa dan aturan-aturan pembentuk makna (aksara, kata, kalimat, dst.) yang sudah dirumuskan dengan jelas dan disepakati besama selama puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun lamanya.

Dalam “bahasa” filmis tidak ada tata-bahasa (grammar) yang dirumuskan secara ketat seperti layaknya aturan bahasa (Indonesia, Inggris, Perancis dsb.), dan sebagai pengganti elemen-elemen pembentuk maknanya (aksara, kata, kalimat, dst.) digunakan gambar-gambar yang bergerak (moving pictures/visual) ditambah dengan suara/sound/audio (dialog, musik, efek dsb.). Bahasa filmis menciptakan makna (yang ditangkap/diinterpretasikan oleh penonton) dengan menyusun elemen-elemen yang dimilikinya secara kreatif, lewat rangkaian kode-kode yang dibentuk secara teknis, seperti narrative, editing, type of shot, camera angle, camera movement, lighting, sound effect, dsb. yang dalam istilah teori film disebut sebagai cinematic apparatus.

Jadi, dalam “membaca” bahasa filmis yang terpenting bukanlah memahami apa yang secara fisikal tersampaikan dilayar—seperti halnya aksara membentuk kata, kata melahirkan kalimat, kalimat menciptakan paragraf, dst.—akan tetapi memahami sistem (cara kerja) elemen-elemen pembentuk makna tersebut. Dengan kata lain, kita harus menggeser pengamatan kita bukan lagi kepada “apa” makna yang ingin disampaikan menuju “bagaimana” makna tersebut diciptakan/dibangun dalam “bahasa” film, atau bagaimana cinematic apparatus tersebut digunakan. Dengan demikian baru kita akan memahami kenapa penonton menangkap pesan tersebut sedemikian rupa (kita bersimpati kepada tokoh, ikut sedih, gembira, hanyut dalam cerita, dsb.).

Spectatorship

Secara sederhana dapat diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia; Kepenontonan (Inggris; spectator: penonton). Namun arti sesungguhnya bukanlah penonton dalam pengertian harafiah (darah dan daging), sebab yang ingin dijelaskan disini adalah bagaimana cinematic apparatus dapat digunakan untuk mempengaruhi penonton (kepenontonan) secara psikologis.

Spectatorship dalam teori film menjelaskan kepada kita bagaimana para penonton film bisa merespon (menangkap pesan, menanggapi, menginterpretasikan) sebuah film untuk diri mereka sendiri. Teori spectatorship ini mampu membuktikan kepada kita bahwa ternyata media film (terutama yang beraliran mainstream) telah didisain sedemikian rupa untuk mempengaruhi penonton secara psikologis. Teori-teori psikoanalisa sering digunakan untuk menguraikan penjelasan ini. Secara garis besar, para teoritisi film di Eropa dan Amerika menemukan bahwa cinematic apparatus (terutama pada film-film mainstream) ternyata telah didisain untuk memenuhi hasrat-hasrat (desires) para penonton secara umum, setidaknya untuk dua hal, yaitu: 1. to have/untuk memiliki, dan 2. to be/untuk menjadi; apa yang ia tangkap/lihat didalam film yang ditontonnya, (seperti karakter, kehidupan, pengalaman, kejadian, perasaan dsb.)

Untuk menjelaskan hal ini biasanya dipakai teori mirror stage, yaitu teori neo-psikoanalisa dari Jacques Lacan, yang menjelaskan tentang tahapan perkembangan manusia. Menurut Lacan, setiap manusia akan mengalami mirror phase yakni suatu tahapan kedewasaan melalui proses visual dimana seorang anak mulai dapat mengidentifikasi dirinya sebagai subyek dengan membedakannya dari imaji dari dirinya sendiri (bayangannya dalam cermin).

Gaze

Seperti halnya spectatorship, teori tentang gaze ini juga banyak menggunakan uraian-uraian yang dipinjam dari bidang ilmu psikoanalisa. Pada dasarnya gaze dipakai untuk menjelaskan bagaimana suatu film melalui cinematic apparatus-nya telah digunakan untuk “membius” penonton kepada suatu “kesadaran” lain yaitu realitas filmis. Gaze telah memungkinkan film “menghipnotis” penontonnya. Melalui cinematic apparatus seperti fade in-fade out dalam editing misalnya, kita sering tidak menyadari telah terjadi transisi waktu dalam suatu cerita maupun setting lokasi dalam film yang kita tonton yang sama sekali berbeda dengan transisi waktu yang kita alami dalam realitas sesungguhnya, atau transisi tersebut akan kita terima secara sangat halus, seolah-olah kita “masuk” dalam realitas film tersebut, seolah-olah kita adalah bagian dari realitas film tersebut..

Para teoritisi Film Feminis, seperti Laura Mulvey misalnya, bahkan berhasil membuktikan lewat teori ini, bahwa film-film Hollywood (aliran mainstream) telah didisain sedemikian rupa untuk memenuhi hasrat voyeuristic (kenikmatan melihat) kaum laki-laki (terutama dari kalangan kulit putih).

Auteur

Teori ini lebih menekankan pengamatannya kepada gaya (style) sutradara sebagai kreator utama dalam karya film mereka, beberapa sutradara tertentu dianggap memiliki gaya tersendiri yang khas, unik, berbeda satu dari yang lain. Gaya ini dapat diamati lewat pola-pola yang khas dari film-film karya mereka. Melalui teori auteur ini maka kita juga dapat mengamati kecenderungan cinematic apparatus seperti apa yang sering digunakan oleh sutradara tersebut. Hal tersebut juga dapat membantu kita untuk memahami visi dan ideologi (pribadi) dari sang sutradara tersebut.

***

Jauh dari maksud untuk menggurui, tujuan tulisan ini sebenarnya hanya ingin membuka wacana dalam rangka berbagi. Beberapa perangkat teori yang telah diuraikan di atas hanyalah suatu gambaran ringkas tentang bagaimana cara “membaca” sebuah film sebagai sebuah teks, yang pada akhirnya akan membantu kita untuk memahami bagaimana cara kerja sebuah film itu difungsikan untuk mempengaruhi (menggiring interpretasi) penontonnya, termasuk dalam memahami ideologi maupun perjuangan tokoh tertentu. Dan dengan demikian kita dapat mengambil sedikit jarak untuk dapat menilai secara lebih jernih, dan menyikapinya secara lebih kritis. Sebab pada dasarnya film hanyalah media yang bersifat pasif, film baru akan “bergema” jika sudah memiliki ruh, dan ruh itu seharusnya berasal dari disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Sedangkan mengenai penilaian, hal itu berpulang kepada diri masing-masing. Tidak ada seorang pun yang berhak melarang orang lain untuk menilai dan menginterpretasikan sebuah film, sama seperti tak seorang pun berhak melarang seseorang membuat sebuah film.

Comments
  1. Uknown strangers says:

    “Film adalah iklan yang panjang.”

  2. uknown strangers says:

    terlalu banyak iklan dalam film. dalam kehidupan. dalam.. semakin dalam.. ke alam bawah sadar. iklan hanyalah potongan film, tapi bukan film secara keseluruhan ia tidak pernah lengkap. sepertihalnya badan, kaki, atau sepatu.. hanya sepotong.

    • budiwibawa says:

      Fragmented (terfragmentasi), itukah istilah yang sering digunakan oleh kaum post-modernis dan post-strukturalis untuk menunjuk fenomena semacam itu? Analogi-analogi mereka sering kali mempertanyakan persoalan “keutuhan” diri manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s