cinema (courtesy of http://www.socialanimal.co.uk)

Kesulitan pertama yang dihadapi saat menulis esai ini adalah bagaimana menguraikan sebuah abstraksi yang cukup jernih perihal sinema sebagai kegiatan ilmiah? (terlebih dalam kesempatan yang sangat terbatas). Kesulitan tersebut mungkin muncul karena pra-anggapan bahwa sinema (atau film, dalam istilah lebih umum) hingga saat ini cenderung diterima begitu saja, lebih sebagai mitos “seni hiburan” daripada sebagai kegiatan ilmiah. Namun, saya menimbang bahwa betapa pun abstraksi tersebut perlu tetap dilakukan, terutama demi menghindari jebakan solipstik. Esai ini sendiri merupakan sebuah usaha penyelidikan tahap awal yang mencoba merespon beberapa persoalan mendasar berikut ini: (1) Bagaimana sinema dapat dijelaskan sebagai lingkup dari kegiatan ilmiah? (2) Apa yang dapat direfleksikan secara filosofis terhadap sinema sebagai suatu kegiatan ilmiah? dan (3) Mengapa refleksi filosofis tersebut perlu disanggah/didukung? (4) Sikap seperti apa yang sebaiknya disarankan dalam rangka memahami inti persoalan tersebut?

Sinema sebagai Kegiatan Ilmiah

Meskipun tidak terlampau sulit untuk membuktikan keterkaitan yang sangat erat antara sinema dengan teknologi sebagai basis kekuatan mediumnya, namun demikian, menjelaskan sinema sebagai salah satu lingkup kegiatan ilmiah nampaknya akan menjadi suatu usaha yang cukup kompleks. Bukan hanya karena sebagian besar masyarakat awam telah terlanjur memahami mitos sinema sebatas sebagai “seni hiburan”, yang lahir dari rahim kebudayaan populer (baca: peradaban modern), akan tetapi juga disebabkan sedikit sekali para pelaku sinema (baik sineas maupun kritikus film) yang mau melakukan refleksi kritis secara sungguh-sungguh terhadap sinema sebagai bidang disiplin yang mereka geluti. Kondisi ini pada akhirnya telah mengakibatkan kecenderungan peyoratif (pendangkalan makna) terhadap istilah sinema sebagai salah satu penemuan di bidang media, yang telah menyumbangkan kontribusi cukup penting bagi perkembangan peradaban dunia hingga saat ini.

Abstraksi mengenai sinema sebagai bagian dari kegiatan ilmiah setidaknya dapat dilakukan melalui tiga metode pendekatan. Pertama, metode pendekatan historis; kedua, metode pendekatan ekonomis-industrialistis; dan ketiga, metode pendekatan semiologis/semiotis (terkadang juga hermenetis). Secara singkat, ketiga jenis metode pendekatan tersebut akan dijelaskan sbb.:

Secara historis, penemuan sinema (pada tahun 1895) akan nampak cukup jelas sebagai semacam akumulasi dari penemuan-penemuan ilmiah pada masa sebelumnya. Paling kurang dimulai dari penemuan camera obscura (Ibn al-Haitham, Arab: sekitar 1000); teknologi dasar fotografi (Daguerre dan Niepce, Prancis: 1826/27); hukum “ilusi gerak” atau stroboscopic effect (Michael Faraday, Inggris: sekitar 1850-an); gambar fotografi serial (Eadweard Muybridge, Inggris-AS: 1870); bahan baku strip/rol seluloid (George Eastman, AS: 1888); Kinetoscope (Thomas A. Edison, AS: 1894); dan akhirnya, penemuan Cinématographe (Lumière bersaudara, Prancis: 1895)[i] sebagai prototipe bagi mekanisme prosedural sinema modern yang kita kenal saat ini. Semua penemuan tersebut merupakan hasil dari pekerjaan ilmiah, yang tidak mungkin dilakukan tanpa menekuni ilmu pengetahuan tertentu secara khusus. Dari situ, dapatlah dikatakan bahwa sinema adalah hasil dari kegiatan ilmiah, atau setidaknya merupakan implementasi (terapan) dari hasil kegiatan ilmiah.

Relasi sinema dengan ekonomi-industri telah dimulai sejak awal penyebarannya ke hampir seluruh belahan dunia (di awal 1900-an). Adalah Charles Pathé (1863-1957), seorang enterprenir asal Prancis sebagai pelopor pertama yang paling berhasil memanfaatkan sinema sebagai komodifikasi ekonomi-industri. Pathé menerapkan Vertically Integrated System (V.I.S) sebagai kunci suksesnya, yakni suatu sistem yang berazas kepada penguasaan jalur vertikal industri sinema (yaitu: produksi, distribusi dan ekshebisi) secara terintegrasi untuk menjamin keuntungan.[ii] Model V.I.S inilah yang kemudian terus disempurnakan oleh Sistem Studio Hollywood, yang berhasil mengaktualisasikan diri sebagai dominator sistem industri dalam bidang perfilman di dunia sampai hari ini. Meski demikian, keberhasilan Hollywood tidak semata-mata karena mengadopsi V.I.S atau bahkan datang secara kebetulan. Sistem Studio Hollywood telah menjadi semacam proyek percontohan, tentang bagaimana ilmu pengetahuan (sains) ekonomi modern dijadikan dasar ilmiah yang diterapkan dalam suatu sistem industri perfilman. Di dalam Sistem Studio Hollywood, berbagai eksperimen dan inovasi untuk memperbesar tingkat probabilitas (memperkecil tingkat kegagalan) serta uji-coba atas ketahanan adaptatif suatu sistem industri perfilman terhadap kondisi dan situasi aktual masih terus dilakukan. Singkatnya, hal itu juga dapat berarti bahwa, Sistem Studio Hollywood merupakan suatu contoh kegiatan ilmiah bagi ranah disiplin ilmu ekonomi di bidang industri perfilman. [iii]

Seiring dengan pergerakan tren ilmu pengetahuan ke arah filsafat analitik (dimana filsafat linguistik/bahasa akan memainkan peran sentral), semiologi juga telah mengantar bidang studi analisa film   mencapai puncaknya, diawali pada sekitar tahun 1920-an, ditandai dengan maraknya kemunculan jurnal-jurnal ilmiah khusus sinema lalu berikutnya diikuti dengan dimasukkannya filmologi (kajian film) sebagai bagian dari kurikulum akademis di universitas Paris.[iv] Metode pendekatan semiologis/semiotis memfokuskan penyelidikannya untuk mengungkap potensi sinema sebagai aparatus ideologis dengan jalan menganalisa struktur sistem bahasa khusus yang dipraktekkan dalam sinema (bahasa sinematik). Dari metode pendekatan ini nantinya akan lahir beberapa landasan teori film, diantaranya, Teori Film Formalis, Teori Film Realis, Teori Film Psikoanalisis dan Teori Film Feminis.

Melalui metode pendekatan semiologis/semiotis, maka persoalan tentang bagaimana struktur bahasa sinematik itu tersusun (atau disusun) secara sistematis demi tujuan menyampaikan pesan tertentu kepada audiens-nya menjadi hal yang dapat dijelaskan dengan lebih jernih (dapat dipertangung-jawabkan secara ilmiah). Bahasa sinematik merupakan bangunan sistem yang kompleks, yang strukturnya terdiri dari banyak elemen pembentuk makna. Proses “penciptaan” dalam sinema itu sendiri juga dapat dikategorikan sebagai kegiatan ilmiah (lebih tepatnya kreatif-ilmiah), sebab, setiap pilihan elemen yang dipakai untuk membentuk bangunan bahasa sinematik (mulai dari teknologi/alat yang digunakan, mise en scène, type of shot, angle dan gerak kamera, sampai dengan gaya penyutradaraan dan editing) memiliki perhitungan sistematisnya tersendiri, dengan pertimbangan efisiensi dan efektifitas keseluruhan dari pesan yang ingin disampaikan.

Dari uraian yang sangat singkat di atas, semoga cukuplah dasar bagi kita untuk dapat menyatakan bahwa sinema juga merupakan salah satu lingkup dari kegiatan ilmiah.

Refleksi Filosofis Terhadap Sinema Sebagai Kegiatan Ilmiah

Berbeda dengan ilmu (sains), yang merupakan pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang suatu “bidang tertentu” dari realitas, suatu kegiatan reflektif dapat dikatakan filosofis (bersifat falsafi) apabila ia dapat menjelaskan kebenaran dari pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang realitas secara “menyeluruh”[v] (tidak terbatas hanya kepada disiplin-disiplin tertentu). Dalam konteks ini, refleksi filosofis terhadap sinema sebagai kegiatan ilmiah juga dapat dikategorikan ke dalam lingkup filsafat ilmu. Sebagai mana diuraikan Surajiyo, “Filsafat ilmu adalah penyelidikan tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara memperolehnya. Pokok perhatian filsafat ilmu adalah proses penyelidikan ilmiah itu sendiri”.[vi] Jadi, refleksi filosofis terhadap sinema sebagai kegiatan ilmiah dapat diartikan sebagai penyelidikan tentang ciri-ciri sinema sebagai pengetahuan ilmiah dan jalan atau metode untuk memperoleh pengetahuan itu sendiri.

Ditilik dari sejarahnya, sinema sebagai pengetahuan ilmiah (baik sinematografi maupun filmologi /kajian film sebagai disiplin ilmu tersendiri) memang tergolong masih sangat muda. Institusi pendidikan sinematografi resmi pertama didirikan di Moscow, Uni Soviet pada tahun 1919, sedangkan filmologi pertama kali diakui secara akademis pada sekitar tahun 1950 di Prancis. Namun demikian, disiplin-disiplin ilmu tersebut sesungguhnya memiliki peranan yang sangat signifikan, terutama dalam membantu memahami karakteristik media sinema dan pengaruhnya terhadap realitas kehidupan. Urgensi atas kemunculan disiplin-disiplin ilmu baru tersebut didorong oleh kebutuhan manusia untuk dapat memahami secara lebih metodis, sistematis dan koheren tentang sinema serta kontribusinya sebagai suatu penemuan revolusioner di bidang media.

Terdapat dua pertanyaan kritis yang dapat ditarik dari fenomena kemunculan ilmu sinema (sinematografi) dan analisa sinema (filmologi). Pertama, hal apa yang telah mendorong kebutuhan manusia untuk memahami sinema secara lebih sistematis, metodis dan komprehensif? Kedua, apa tujuannya? Dengan cara menelusuri kedua pertanyaan tersebut saya akan mencoba masuk ke dalam pokok persoalan, yakni  tentang apa tujuan refleksi filosofis terhadap sinema (dalam konteks ini sinematografi dan filmologi) sebagai kegiatan ilmiah.

Sebagai kegiatan ilmiah, sinema memiliki posisi yang unik. Di dalam sinema, apa yang dibedakan oleh Wilhelm Dilthey dengan istilah naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam) dan geisteswissenschaften (ilmu-ilmu budaya)[vii] seperti melebur ke dalam satu wadah. Sinema (khususnya sinematografi) adalah naturwissenschaften, menimbang ia adalah medium yang sangat bergantung kepada ilmu teknik, yang patuh kepada hukum-hukum tertentu (kepekaan lensa kamera dalam merekam cahaya misalnya, memiliki azas-azas yang bersifat pasti/eksak). Namun, sinema jelas adalah juga geisteswissenschaften, sebab ia adalah medium yang sangat mempertimbangkan aspek estetis serta konteks-konteks tertentu dalam pengertian yang lebih khusus.

Kekuatan utama dari media sinema sesungguhnya adalah kemampuannya dalam menghadirkan sensasi realitas artifisial (audio-visual) yang mendekati pengalaman dunia real. Keunggulan inilah yang sebenarnya telah membawa sinema dalam waktu yang relatif singkat—hanya berselang sekitar seratus tahun lebih semenjak ditemukannya cinématographe pada 1895—berhasil menyebarkan pengaruhnya ke hampir segala aspek kehidupan manusia hingga saat ini. Sinema telah memberikan inspirasi bagi percepatan perkembangan teknologi media-media virtual-artifisial setelahnya. Sebagai media, sinema berhasil membuktikan diri, bahwa ia lebih efektif dan efisien dalam menawarkan manfaat praktis yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dalam kehidupan umat manusia. Agaknya, potensi kekuatan media sinema inilah yang paling berperan dalam mendorong kebutuhan manusia untuk dapat memahami sinema secara lebih sistematis, metodis dan komprehensif. “… perkembangan ilmu pengetahuan selain ditentukan oleh temuan-temuan baru dan usaha merefleksikan temuan-temuan itu, juga ditentukan oleh manfaat praktis yang dapat diterima manusia.” [viii]

Sejauh ini, kita mungkin telah berhasil merespon satu pertanyaan kritis dari fenomena kemunculan sinema sebagai pengetahuan ilmiah. Akan tetapi, apakah dengan demikian dapat segera dikatakan bahwa tujuan sinema sebagai pengetahuan ilmiah tersebut sudah cukup untuk menjamin kebenarannya? Tentu saja tidak sesederhana itu.

Dalam batasan tertentu, ilmu pengetahuan tentang analisa sinema (filmologi) sebenarnya juga sebentuk usaha dalam merespon pertanyaan kritis yang kedua, yaitu: Apa tujuan keberadaan sinema sebagai pengetahuan dan kegiatan ilmiah? Melalui metode pendekatan semiologis/semiotis sebagai pembuka jalan, ilmu analisa film telah berhasil menelurkan beberapa teori yang dapat dipakai sebagai metode sistematis untuk “membaca” atau memahami karakteristik-karakteristik khusus yang dimiliki oleh media sinema. Teori-teori tersebut sekaligus juga dapat dipakai sebagai referensi bagi kegiatan kritik dan resensi film (dalam pengertian yang sesungguhnya), yang tentunya juga menuntut pertanggung-jawaban ilmiah. Maka, filmologi sebagai disiplin pengetahuan ilmiah sebenarnya juga telah menjalankan fungsi reflektif terhadap sinema sebagai subyek pengamatan khususnya. Melalui ilmu analisa film inilah dapat dijelaskan secara lebih sistematis dan komprehensif perihal proses atau cara kerja suatu sinema sebagai aparatus ideologis tertentu (terutama dengan cara mengungkapkan kandungan sistem bahasa sinematiknya). Beberapa kajian mengenai sinema/film malahan dilakukan melalui pendekatan yang sangat filosofis (terutama menggunakan filsafat linguistik), kita dapat mengamati hal tersebut misalnya dari karangan-karangan seperti: Jean-Louis Baudry, Ideological effects of the Basic Cinematographic Apparatus, 1974; The Apparatus: Metaphsychological Approaches to the Impression of Reality in Cinema, 1979. Roland Barthes, L’Image/Music/Text, 1977;  Camera Lucida, 1980; serta Gilles Deleuze, Cinema 1, L’Image-Movement, 1986;  Cinema 2, L’Image-Temps, 1989.

Lalu, apakah fakta tersebut di atas dapat berarti bahwa filmologi dapat disamakan begitu saja dengan filsafat ilmu? Maka, sekali lagi kita akan berhadapan dengan persoalan yang tidak sederhana untuk direspon. Yang jelas, sinema sebagai pengetahuan ilmiah adalah bidang yang masih tergolong baru, dan belum memiliki cukup banyak penelitian ilmiah sebagai acuan referensi ketat, jika dibandingkan dengan ranah keilmuan lain yang sudah ada sebelumnya. Tetapi, sebagai ranah baru, ia merupakan bidang yang cukup kompleks dan unik, yang memiliki banyak sekali elemen pembentuk makna di dalamnya, kondisi yang terbawa secara natural oleh medium sinema itu rupanya seringkali menjadi penggoda bagi para peneliti sinema untuk mencoba menggunakan metode-metode inter-disipliner keilmuan (yang dipinjam dari banyak disiplin keilmuan) dalam mendekatinya, termasuk usaha untuk mendapatkan pemahaman metodis, sistematis dan koheren yang bersifat menyeluruh tentang realitas kehidupan (filosofis), mengingat sinema adalah juga “cermin” realitas itu sendiri (meskipun dalam bentuknya yang artifisial).

Filmologi, atau pengetahuan ilmiah tentang analisa sinema sedikit banyak memang memiliki sifat reflektif-filosofis, namun demikian ia jelas bukan filsafat ilmu (dalam pengertian yang dimaksud sebagai filsafat ilmu). Sebab, sebagai suatu disiplin ilmiah filmologi tidak mungkin melepaskan diri dari suatu abstraksi serta penjelasan mengenai sistematika dan metode keilmiahan-nya sendiri, ranah inilah yang harus selalu terbuka bagi refleksi-refleksi kritis yang akan datang setelahnya (termasuk refleksi filosofis dari filsafat ilmu), maka ia tidak boleh (dan tidak mungkin) dianggap sebagai yang paling benar dan mutlak. Sebab apa yang paling layak untuk dimutlakkan adalah realitas kehidupan itu sendiri. Meminjam ungkapan George Boas yang dikutip oleh Laurence M. Gould, “Ilmu pengetahuan adalah seni untuk memahami alam [Dan realitas kehidupan, Penulis]”.[ix]


[i] Andrea Gronemeyer, Film, Crash Course Series (New York, Barron’s Educational Series, Inc., 1998), hal. 11 et seqq.

[ii] Kristin Thompson & David Bordwell, Film History an Introduction (New York, McGraw-Hill Inc., 1994), hal. 27.

[iii] Pam Cook & Mieke Bernink (Ed.), The Cinema Book 2nd Edition (London, BFI Publishing, 2000), hal. 6 et seq.

[iv] Kristin Thompson & David Bordwell, Op. Cit., hal. 436.

[v] Lih.: Harry Hamersma, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat (Jakarta, Yayasan Kanisius, 1981), hal. 10.

[vi] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannnya di Indonesia: Suatu Pengantar (Jakarta, Bumi Aksara, 2008), hal. 45.

[vii] Ibid,. hal. 63.

[viii] Mikhael Dua, (Seri Filsafat Atma Jaya: 25) Filsafat Ilmu Pengetahuan, Telaah Analitis, Dinamis dan Dialektis (Maumere, Penerbit Ledalero, 2007), hal. 8.

[ix] Laurence M. Gould,. Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan di Masa Kini, dalam Ilmu Pengetahuan, Idaman atau Ancaman? (J. Wukmir dan S. Gopinathan [Ed.]), Jakarta, Balai Pustaka: 1981, hal. 43.

Comments
  1. Uknown strangers says:

    Film sebagai ilmiah adalah upaya stanley kubrick dalam Space Odyssey 2001. Film sebagai aksi surealis adalah upaya Alexandro jorodowsky dalam El Topo, The holy mountain, dan film2 lainnya. Film sebagai filsafat adalah Waking Life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s