courtesy of melayuonline.com

Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” (Milan Kundera)

Media televisi dalam sejarah perkembangannya di Indonesia pada khususnya, mau tak mau telah menimbulkan ekses ganda yang tak terpisahkan satu sama lain, bagai pisau bermata dua. Merupakan kenyataan yang tak dapat kita pungkiri bahwa; dari satu sisi media televisi cukup banyak berjasa dalam membukakan akses informasi yang semakin lebar bagi khalayak masyarakat. Namun di sisi lain, mesti dipahami juga mengenai karakter asli medium ini yang juga dapat berakibat “membutakan” baik bagi para pemirsanya, apalagi bagi para pelakunya. Karakternya yang memiliki dua wajah itulah yang menyebabkan media televisi masih perlu untuk selalu ditinjau kembali secara intensif melalui berbagai sudut pandang kritis, tanpa pretensi lain selain agar tujuan yang kita harapkan bersama dapat tercapai secara lebih optimal.

Kita tentu masih ingat bagaimana hampir semua stasiun televisi di tanah air berlomba-lomba memberitakan jalannya gerakan mahasiswa pada tahun 1998, penyebaran informasi itu segera disikapi oleh gerakan massa dari berbagai elemen di hampir seluruh nusantara, menciptakan sebuah wacana yang massif dan gerakan serentak mencapai satu tujuan, reformasi! Dan dalam rentang waktu yang relatif singkat gerakan tersebut akhirnya mampu melengserkan penguasa orde baru. Suatu percepatan yang hampir tak terbayangkan bisa terjadi pada era TVRI masih menjadi satu-satunya stasiun siaran televisi di Indonesia.

Di sisi lain, kelangsungan hidup sebuah stasiun televisi yang terlalu bergantung kepada ladang iklan dan rating pemirsa, telah memaksanya untuk bersikap terlalu “ngaret” bahkan terkesan lemah karena tidak punya pendirian yang kuat. Di tengah lautan potensi segmen begitu beragam, kebanyakan stasiun televisi Indonesia justru berlomba-lomba menerapkan formula mainstream demi saling berebut pangsa penonton terbanyak, dan akhirnya menjadikan stasiun-stasiun televisi itu tak lebih seperti “kitiran” yang cuma bisa ikut kemana arah angin berhembus. Padahal, justru semakin banyak khalayak masyarakat dari beragam kalangan yang membutuhkan media yang konon telah terbukti paling efektif dan efisien itu sebagai sarana pertukaran informasi sekaligus sebagai wadah penyampai aspirasi mereka.

Sayangnya, justru kecenderungan terakhirlah yang lebih dibela oleh sebagian besar stasiun siaran televisi di Indonesia. Tentu saja dengan alasan bahwa mereka harus lebih mengutamakan kelangsungan hidupnya dibanding melakukan sesuatu hal yang dalam istilah umum terbiasa disebut “idealis,” suatu alasan yang―maaf saja―menurut telaah saya justru kontra-kreatif, terlebih mengingat banyaknya jaringan televisi (di negara lain) yang tetap bisa hidup, bahkan menjadi besar melalui visi mereka yang lebih segmentatif, sebut saja CNN, HBO, CNBC, National Geographic Channel, Discovery Channel, Animal Planet, Animax, Cartoon Network, Nickelodeon, dan  MTV sebagai beberapa gelintir saja yang dapat dijadikan kasus studi.

Berbagai trik atau cara merebut rating pemirsa serta spot iklan itu pula yang nampaknya paling mempengaruhi diskusi-diskusi pada lokakarya Format Program Siaran Seni Tradisi di Televisi. Diskursus yang berkembang diantara para peserta justru cenderung terjebak diseputar “kemasan.” Hal ini sama sekali tak salah, mengingat para peserta umumnya adalah para praktisi televisi. Namun dengan sendirinya muncul suatu indikasi yang cukup jelas bahwa sebagian besar peserta justru lebih tertarik pada asiknya permainan “bagaimana” cara mengemas seni tradisi dalam program televisi, dan mungkin alpa pada ikhwal lain yang juga tak kalah menariknya, yaitu “kenapa” harus seni tradisi dan “kenapa” harus media televisi?

Seorang pengamat  media, Neil Postman telah menjelaskan secara gamblang dalam bukunya, “Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Business” tentang kecenderungan media televisi dalam menerjemahkan semua tema diskursus kedalam format menghibur, bahkan untuk hal-hal yang memerlukan pembahasan mendalam seperti diskursus politik, pengetahuan dan keagamaan. Hal ini telah memberikan gambaran tentang suatu proses atau cara kerja bagaimana format acara televisi yang serba terfragmentasi telah mencerminkan sifat mediumnya, dan pada akhirnya juga akan mempengaruhi sifat para pemirsanya (Postman:1985)

Hasil telisik Postman tersebut setidaknya dapat kita manfaatkan sebagai acuan untuk lebih berhati-hati dalam mengemas seni tradisi dalam program televisi, sebab salah-salah “kemasan” seni tradisi di televisi malah bukannya membantu melestarikan nilai-nilai budaya suatu seni tradisi seperti harapan kita bersama, tetapi justru semakin mempercepat kepunahannya. Mengapa bisa terjadi demikian?

Ada dua hal utama yang dapat kita perhatikan dalam konteks ini. Pertama, arti “kemasan” dalam  program televisi umumnya cenderung diterjemahkan sebagai “format yang menghibur,” sehingga formula mainstream (makna hiburan/entertain dalam pengertian global/barat) dianggap lebih cocok untuk diterapkan. Kedua, suatu seni tradisi―bahkan yang berbentuk hiburan sekalipun―sangat berbeda dengan hiburan yang bersifat mainstream. Dalam setiap seni tradisi terkandung nilai-nilai budaya yang dianut, dipahami dan dijaga oleh masyarakat tradisi tertentu, nilai-nilai tersebut sudah menjadi milik masyarakat tersebut sejak lama dan diwariskan secara turun temurun. Masing-masing seni tradisi memiliki keunikannya tersendiri, berbeda antara satu dengan yang lain. Jadi, seni tradisi jelas lebih bersifat lokal ketimbang global, dan pada dasarnya bersifat mandiri, tidak bergantung kepada yang global, ia akan tetap hidup selama masyarakat pemiliknya masih ada.

Cara membungkus seni tradisi dengan kemasan mainstream hanya akan membuatnya semakin tercerabut dari akar, dan kehilangan makna atas nilai-nilai yang terkandung didalamnya, tereduksi menjadi hanya sekedar eksotisme belaka. Kenyataan ini tentu saja ironis, sebab pada saat sebagian masyarakat pencipta budaya mainstream (baca: barat) mulai menyadari keunikan dan keindahan nilai-nilai budaya tradisi, dan berusaha mempelajari dan memahaminya secara utuh, pada saat yang sama kebanyakan stasiun siaran televisi kita justru berlomba-lomba memaksanya masuk kedalam pola-pola cetakan mainstream. Mendangkalkan kedalaman maknanya melalui format sajian yang eksotis dan terpecah-pecah.

Seperti pisau bermata dua, televisi memang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Namun perhatian yang berlebihan kepada salah satu sisi saja telah menyebabkan sisi yang satunya lagi menjadi tumpul dan berkarat. Agaknya kita masih harus mengasah ulang sisi yang terlupakan itu, agar ketajamannya bisa lebih seimbang. Dan semoga saja melalui keseimbangan itu manfaatnya akan lebih terasa, semoga…

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s