Friedrich Nietzsche

Ada beberapa buku hasil terjemahan (dalam bahasa Inggris) yang dapat kita temukan untuk buku  Zur Genealogie der Moral (1887; On the Genealogy of Morals), karangan Friedrich Nietzsche (1844-1900). Hasil-hasil terjemahan tersebut sekurangnya adalah terjemahan oleh Francis Golffing (New York, 1956), oleh Walter Kaufmann dan RJ Hollingdale (New York, 1967), oleh Carol Diethe (Cambridge, 1994), dan oleh Douglas Smith (Oxford, 1996). Buku Zur Genealogie der Moral terdiri dari satu Pendahuluan dan tiga Esai, masing-masing Esai merupakan pertanyaan radikal Nietzsche atas nilai-nilai moral, yang tujuan utamanya adalah untuk meneliti dasar konsep dan evolusi dari perkembangan nilai-nilai tersebut.

Resume ini sengaja menggunakan karya terjemahan dari Walter Kaufmann dan RJ Hollingdale (Vintage Books: New York, 1967), karena beberapa alasan: Pertama, karena terjemahan ini oleh beberapa referensi—antara lain:  Britanica Encyclopedia 2007, dan The Moral Philosophers: an Introductions to Ethics (Richard Norman, Oxford University Press: Oxford, 1998)—telah didaulat sebagai hasil terjemahan yang relatif lebih metodis dan komprehensif sehingga setidaknya dapat diasumsikan sebagai hasil terjemahan yang memiliki ‘nilai-lebih’, dalam arti memenuhi persyaratan untuk dapat dipertanggung-jawabkan secara ‘akademis’. Kedua, karena—sayang sekali—saya tidak bisa membaca edisi asli buku tersebut yang berbahasa Jerman, dan Ketiga karena saya tidak dapat menemukan terjemahan dalam bahasa Indonesia, kalaupun ada, buku-buku terjemahan dalam bahasa Indonesia umumnya diterjemahkan dari bahasa Inggris (terjemahan kedua) sehingga membuka kemungkinan yang relatif lebih besar bagi tereduksinya beberapa elemen penting yang kita butuhkan untuk dapat memahami buku tersebut dengan baik.

Sebagai langkah awal, saya ingin berbagi tentang beberapa hal yang menurut saya ada baiknya untuk kita tekankan terlebih dahulu sebagai semacam ‘persiapan’ yang mungkin dapat membantu kita dalam mencerna buku On the Genealogy of Morals, mengingat buku ini (seperti juga buku-buku karangan Nietzsche lainnya) dikenal sebagai teks ‘kontemporer’ yang cukup sulit dan kontroversial. Beberapa langkah yang dapat kita lakukan sebagai tindakan preliminer tersebut adalah: Pertama, tentu saja dengan memperlakukan karangan ini sebagai bahan kajian filosofis secara obyektif dan rasional. Kedua, tetap melakukan suatu studi komparatif yang setidaknya memadai, baik melalui buku-buku karangan Nietzsche yang lain, maupun lewat komentar-komentar dari para pemikir mengenai karangan Nietzsche tersebut. Ketiga, yang menurut saya juga tak kalah penting adalah berusaha sedapat mungkin untuk tetap mempertahankan obyektivitas kita sebagai pembaca, sebab Nietzsche adalah seorang penulis yang dikenal gemar memamerkan dirinya sebagai pelopor, sebagai seorang pemikir yang melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gaya penulisan Nietzsche sering terkesan berkobar-kobar dan terkadang bahkan ‘provokatif.’ Kecenderungan tersebut tentu saja berhubungan erat dengan keutuhan argumentasi yang hendak ia bangun. Namun, kita lebih baik untuk tidak terpengaruh oleh pencitraan diri semacam itu demi mempertahankan kejernihan nalar dalam usaha memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Nietzsche.

Suatu hal yang agak jarang saya temukan pada resume-resume buku On the Genealogy of Morals sebelumnya adalah ulasan mengenai bab Pendahuluan yang ditulis Nietzsche sebagai semacam pengantar untuk masuk kepada masing-masing gagasan utama dalam ketiga Esai pada karangannya itu, padahal, menurut hemat saya, bab Pendahuluan ini justru menjadi bagian penting yang sangat membantu kita untuk memahami substansi gagasan yang hendak disampaikan Nietzsche melalui bukunya tersebut, baik dari masing-masing Esai maupun gagasan secara keseluruhan.

Dalam bab Pendahuluan, Nietzsche mencoba mendudukkan persoalan dengan menyampaikan maksud dan tujuannya, yakni usaha untuk melacak asal-usul sejarah ide-ide moral manusia. Di sini, Nietzsche sebenarnya bukan sekedar merumuskan latar belakang, secara implisit ia juga telah mengilustrasikan tentang ‘proses’ bagaimana ia bisa sampai kepada pemikiran mengenai genealogi (silsilah) moral sebagai suatu cara untuk menyoroti hakikat moralitas. Bagi Nietzsche, moralitas bukan merupakan produk abadi dari alasan a priori (seperti halnya para Kantian), melainkan sebuah fenomena sosial, yang selalu berubah seiring waktu dengan perkembangan sejarah masyarakat. Nietzsche justru melihat bahwa perspektifnya yang historikal itu dapat mengungkap semua kontingensi[1] atas keyakinan moral manusia. Dalam Bagian 5 bab Pendahuluan, dengan merujuk kepada tulisan-tulisan sebelumnya yang telah membahas pertanyaan-pertanyaan historis, ia mengatakan: “Meski demikian kepedulian saya yang lebih nyata adalah kepada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar menjajakan-hipotesis, entah itu  kepada diri saya sendiri atau orang lain, tentang asal-usul moralitas (atau lebih tepatnya: yang pada akhirnya akan saya kaitkan semata-mata untuk tujuan kepentingan yang hanya merupakan salah satu di antara banyak cara). Apa yang dipertaruhkan adalah nilai moralitas.” Pernyataan ini, akan nampak menjadi lebih fundamental daripada hanya sekedar pandangan historikal, hal ini adalah apa yang dia sebut dalam tulisannya yang lain sebagai ‘suatu penilaian kembali nilai-nilai’. Pada awalnya hal itu disajikan sebagai evaluasi dari serangkaian nilai tertentu, yang dia usung di bawah judul ‘etika rasa iba’ (dicontohkan dengan teori etika Schopenhauer). “Apa yang terutama dikukuhkan adalah nilai ‘unegoistic’ (tidak egois), naluri rasa iba, pengorbanan-diri, penyerahan diri” (Pendahuluan: Bagian 5). Richard Norman (dalam buku The Moral Philosophers: an Introductions to Ethics: Oxford, 1998) melihat hal ini sebagai sebuah tujuan dari kontras yang sangat berbeda antara ‘the Ancients’ (yang kuno) dan ‘modern’ gagasan bahwa moralitas terutama telah dikaitan dengan kebutuhan altruisme, dan pertanyaan tentang mengapa tindakan altruistis harus dihargai. Namun demikian, Nietzsche melanjutkan dengan menunjukkan bahwa keprihatinan yang lebih luas daripada ini bukan hanya evaluasi atas moralitas rasa iba dan altruisme, tetapi evaluasi atas ‘semua moralitas.’ Ia mengatakan: “Kita perlu, sebuah kritik terhadap nilai-nilai moral, nilai dari nilai-nilai itu sendiri pertama-tama harus dipertanyakan.” (Pendahuluan: Bagian 6).

Esai pertama, “Good and Evil,” “Good and Bad” (“Baik dan Jahat,” “Baik dan Buruk”) mengupas tentang evolusi dari dua aspek atau kode moral yang berbeda. Yang pertama, “ksatria-aristokrat/bangsawan” atau “moralitas tuan/mulia,” (master/noble morality) yang berasal dari penguasa dan penakluk pada masa-masa awal, yang menilai kekuatan, kekayaan, dan keberhasilan mereka sendiri sebagai yang “baik” dan kemiskinan dan kemalangan dari orang-orang berkuasa yang lain sebagai yang “buruk.” Rekaan kedua Nietzsche, adalah “kepanditaan” atau “moralitas budak” (slave morality), terutama atas orang-orang Yahudi. Moralitas ini berawal dengan kasta pandita, yang membenci kasta ksatria dan mengutuk kekuatan penuh nafsu mereka (kasta ksatria) sebagai yang jahat, sementara menyebut posisi mereka sendiri yang miskin dan tertindas sebagai penyangkalan-diri yang baik. Didorong oleh ressentiment (kosa kata bahasa Perancis yang nampaknya memang sengaja dipilih oleh Nietzsche), atau rasa kebencian, moralitas budak adalah jauh lebih dalam dan lebih halus daripada moralitas tuan. Ini adalah semacam penobatan atas prestasi Kristiani, yang menyatakan bahwa kasih Kristiani sebenarnya telah lahir dari kebencian. Saat moralitas budak ini berkembang lebih mendalam dan lebih luas daripada kepercayaan diri yang biasa dari para penguasa, Nietzsche khawatir bahwa hal itu akan membuat kita semua akan merasa terbiasa. Manusia modern, yang telah mewarisi jubah moralitas budak, lebih menyukai keamanan dan kenyamanan daripada penaklukan dan risiko. Moralitas budak dari kasta pandita memusatkan perhatian pada kejahatan orang lain dan hukuman di akhirat, hal seperti ini tentu akan mengganggu banyak orang dari hasratnya untuk menikmati masa kini dan memperbaiki diri dalam pengertian moralitas ksatria aristokrat atau para penguasa dan penakluk di masa lalu.

Nietzsche mengilustrasikan kontras antara dua jenis moralitas tersebut dengan menggunakan perumpamaan antara burung pemangsa dan domba. Nietzsche membayangkan bahwa anak domba dapat menilai burung-burung pemangsa sebagai yang ‘jahat’ karena mengancam dan membunuh dan menganggap diri mereka sendiri sebagai yang ‘baik’ karena tidak membunuh. Namun, penilaian seperti ini tidaklah berarti bahwa: karena domba mampu menahan diri dari membunuh maka ia dapat keluar dari semacam perbuatan yang menyalahi moral, akan tetapi  hanya karena mereka memang tidak mampu untuk membunuh (titik). Demikian pula, kita hanya bisa mengutuk burung pemangsa untuk membunuh jika kita berasumsi bahwa ‘perilaku,’ burung pemangsa tersebut, adalah suatu sifat yang dapat dilepaskan dari ‘perbuatan,’ pembunuhan. Nietzsche berpendapat bahwa sesungguhnya tidak ada pelaku di balik perbuatan, ia juga mengambil sebagai contoh kalimat, ‘kilatan petir.’

Tidak ada petir yang terpisah dari cahaya kilat. Asumsi kita bahwa ada pelaku yang entah bagaimana berbeda dari perbuatannya sebenarnya hanyalah sebuah prasangka yang terinspirasi oleh subjek-predikat dalam bentuk tata bahasa. Moralitas budak melepaskan subyek dari predikat, pelaku dari perbuatan, dan mengidentifikasi subyek dengan ‘jiwa,’ yang kemudian harus bertanggung jawab dalam pengadilan akhir (akhirat). Sementara moralitas budak menjadi dominan di dunia modern, Nietzsche justru mengharapkan bahwa suatu saat nanti moralitas tuan akan memiliki kebangkitannya kembali.

Dalam esai kedua, “Guilt,” “Bad Concience,” and the Like (“Bersalah,” “Rasa Bersalah,” dan Semacamnya), Nietzsche mencoba menunjukkan bahwa pada awalnya konsep tentang bersalah itu tidak memiliki nada moral. Dengan mengidentifikasi beberapa kesamaan dalam kosa kata Jerman untuk bersalah (schuld/guilt) dan hutang (schulden/debts). Seseorang yang berhutang adalah ‘bersalah’ (schuld) dan kreditor bisa melakukan perbuatan baik lewat hutang dengan cara memberi hukuman kepada terhutang/debitur. Hukuman di sini tidak dimaksudkan untuk membuat sang debitur merasa buruk, melainkan hanya untuk mendatangkan kesenangan (rasa senang) kepada kreditor. Hukuman dengan demikian adalah kejam tetapi sekaligus ceria/menyenangkan/memberikan perasaan puas: tidak ada perasaan keras sesudahnya. Sebuah masyarakat yang memiliki sistem hukum mirip dengan kreditor: ketika seseorang melanggar hukum, maka mereka telah merugikan masyarakat dan pasti akan mendapat hukuman. Konsep keadilan dalam efeknya telah mengambil alih hukuman dari tangan individu untuk dapat diklaim sendiri secara langsung, dalam masyarakat, bukanlah individu-individu yang berwenang, tetapi melalui jalur hukum, dan karena itulah maka ada aturan hukum, bukan hukuman yang diberikan secara individual, untuk menentukan mengenai apakah sebuah hukuman itu tepat atau tidak. Hal ini tercermin pada berbagai hukuman dengan tujuan berbeda yang telah dijalankan selama berabad-abad, Nietzsche mengamati bahwa semua konsep-konsep memiliki sejarah yang panjang dan cair di mana konsep-konsep tersebut telah memiliki banyak makna yang berbeda-beda. Makna konsep-konsep yang didikte oleh suatu kehendak untuk berkuasa (will to power), dimana konsep-konsep tersebut telah diberi makna atau digunakan oleh kehendak yang berbeda-beda sesuai keinginan mereka masing-masing.

Nietzsche mengidentifikasi asal-usul rasa bersalah (bad consience) sebagai hal yang muncul dalam masa transisi dari masyarakat pemburu-pengumpul menuju masyarakat agraris. Insting hewani manusia akan menjadi tidak lagi menjadi berguna dalam masyarakat koperasi, dan kita dipaksa untuk memendamnya ke dalam. Dengan berjuang melawan dirinya sendiri, maka manusia mengukir kehidupan batin, rasa bersalah, sensibilitas tentang keindahan, dan rasa berhutang kepada nenek moyang mereka, proses inilah yang diasumsikan Nietzsche sebagai asal-usul dari agama. Saat ini, manusia mengarahkan rasa bersalahnya terutama terhadap naluri-naluri hewaninya, tetapi Nietzsche justru bukan bermaksud mendorong kita untuk mengarahkan rasa bersalah menjadi penyangkalan-kehidupan atau kekuatan yang menekan naluri kita.

Judul esai ketiga mengusung pertanyaan, What is the Meaning of Ascetic Ideals? (Apakah Makna dari Asketis Ideal?) Mengapa orang- orang dari berbagai latar budaya mengejar kehidupan seorang asketis penyangkalan-diri? Nietzsche menunjukkan bahwa asketisme sebenarnya meningkatkan perasaan berkuasa dengan memberikan seseorang sebuah kendali penuh atas dirinya sendiri. Dalam banyak kasus, kemudian, asketisme pada akhirnya adalah peneguhan-kehidupan daripada penyangkalan-hidup. Para Asketis Ideal mewujudkan diri secara berbeda di antara berbagai jenis orang. Semacam filsuf asketisme yang mengarah untuk mengklaim bahwa dunia di sekitar mereka hanyalah ilusi. Ini adalah salah satu cara memandang sesuatu, dan Nietzsche memuji cara memandang suatu masalah dari perspektif yang sebanyak mungkin. Tidak ada satu cara yang paling tepat untuk melihat kebenaran, jadi yang terbaik adalah menjadi lebih fleksibel dalam menentukan sudut pandang kita.

Nietzsche memandang kelahiran asketisme sebagai semacam penyakit rohani. Mereka yang menemukan perjuangan hidup terlalu keras berbalik melawan kehidupan dan menganggapnya tercela. Nietzsche melihat mayoritas umat manusia adalah sakit (secara rohani) dan pendeta/imam sebagai dokter yang sebenarnya juga sakit. Agama-agama mengarahkan sebagian penyakit rohani ini, bukan saja dengan jalan memadamkan kehendak melalui meditasi dan pekerjaan, tetapi juga melalui ‘pesta pora atau perayaan perasaan,’ hal ini terwujud di dalam kesadaran akan dosa dan rasa bersalah. Kita mengutuk diri sebagai orang-orang berdosa dan secara masokistis menghukum diri kita sendiri. Sementara itu, Nietzsche juga memandang sains dan sekularisasi sebagai bukanlah alternatif dari cita-cita asketis agama. Mereka hanya mengganti menyembah kepada Allah dengan penyembahan kepada kebenaran. Semangat yang sehat bagi Nietzsche justru harus berani mempertanyakan nilai kebenaran. Nietzsche menyimpulkan dengan mengamati bahwa sementara para asketis ideal mengarahkan kehendak-nya melawan kehidupan, tetapi sebenarnya mereka masih melakukan tempaan yang kuat untuk kehendak: ‘Manusia lebih suka menghendaki ketiadaan daripada tidak memiliki kehendak sama sekali.’

Tinjauan Kritis

Dalam esainya, “Nietzsche, Genealogy, History,” Michel Foucault mencatat beberapa perbedaan penting dalam karya Nietzsche mengenai konsep genealogi dan asal-usul (origin). Asal-usul merujuk kepada titik awal yang tetap dan, karenanya, esensi asal dari sesuatu yang terkait dengannya. Misalnya, kisah Adam dan Hawa menempatkan penciptaan asal-usul manusia di Taman Eden. Tentu saja, kita telah berubah sejak zaman Adam dan Hawa, tetapi beberapa fitur esensial tertentu, seperti dosa asal, akan tetap terbawa bersama kita. Genealogi lebih cocok dengan paradigma evolusi Darwin. lewat genealogi, tidak ada titik awal yang tetap tidak ada fitur esensial, hanya secara bertahap bahkan sering berkembang acak dari satu kondisi kepada yang lain. Kita mungkin memahami tujuan utama Nietzsche dalam buku ini sebagai usaha untuk menggeser pemahaman kita tentang moralitas dari model asal kepada model genealogi. Nietzsche berusaha untuk menunjukkan suatu model kepada kita. Artinya, kita cenderung untuk memikirkan konsep-konsep moral seperti kebaikan dan kejahatan sebagai sesuatu yang stabil, yang didasarkan pada beberapa konsep moral yang akan selalu cair, sampai-sampai kata yang baik, misalnya, telah bertentangan maknanya bagi orang yang berbeda. Konsep-konsep moral kita memiliki silsilah panjang dan tidak bermakna tetap. Dengan mencabut gagasan yang baik dan yang jahat yang muncul entah bagaimana secara independen dari kehendak kita, Nietzsche justru hendak mendorong sensibilitas yang lebih besar yang berkaitan dengan kehidupan moral kita.

Nietzsche menjelaskan fluiditas konsep-konsep moral dengan mengacu kepada kehendak untuk berkuasa. Menurut Nietzsche, kehendak untuk berkuasa adalah dorongan mendasar di alam semesta. Setiap kehendak memiliki hasrat untuk kemerdekaan dan untuk mendominasi kehendak yang lain, meskipun kehendak bekuasa ini akan mengungkapkan dirinya dalam berbagai cara. Sebagai contoh, pengacau di sekolah menguasai kekuatan fisik atas yang lain, sementara kutu buku belajar keras untuk mencapai semacam kekuasaan intelektual. Karena semua konsep-konsep adalah temuan manusia, Nietzsche berpendapat, semua konsep itu pada akhirnya adalah ekspresi dari beberapa kehendak atau yang lainnya. Sebagai contoh, konsep yang baik dapat berarti kekayaan dan kekuatan atau dapat berarti kelembutan dan amal, tergantung pada siapa yang menafsirkannya. Jika kita tampaknya telah memiliki konsep-konsep moral yang relatif tetap di zaman ini, itu hanya hasil dari kemenangan moralitas budak atas segala sudut pandang yang lain. Dengan mengasumsikan bahwa konsep-konsep ini memiliki makna yang tetap, kita menyerahkan kehendak kita kepada kehendak orang-orang yang dibatasi oleh konsep-konsep ini. Orang-orang berkemauan keras, menurut Nietzsche, akan menolak kategori-kategori pemikiran yang disisipkan pada mereka dan memiliki kemandirian dan kreativitas untuk melihat dunia dari perspektif khas mereka sendiri.

Meskipun Nietzsche sering terlihat seolah-olah memuji moralitas bangsawan kuno dan mengutuk budaya moralitas ‘budak’ Yudeo-Kristen, tetapi dia tidak bermaksud menganjurkan untuk hanya kembali begitu saja ke moralitas ‘tuan’ yang lebih tua. Walaupun efek luasnya telah ‘merugikan,’ namun moralitas budak juga terbukti telah membawa sejumlah manfaat. Sementara penakluk kuno memiliki kemurahan hati yang lebih jelas, namun mereka juga dangkal. Manusia telah berkembang menjadi lebih dalam dan licik dan hal inilah yang telah memungkinkan manusia untuk memperoleh karakteristik yang membedakan kita dari binatang, sebagai hasil dari budak yang berpaling ke dalam. Mereka yang tidak bisa menyelesaikan proyek kehendak berkuasa mereka akan ke luar dan justru mendominasi orang di sekitar proyek mereka itu ke dalam dan dan memperoleh kekuasaan yang lebih ‘mengerikan’ atas diri mereka sendiri. Dominasi moralitas Yahudi-Kristen di era modern merupakan bukti dari bagaimana kekuatan batin budak jauh lebih kuat daripada kekuatan luar penakluk. Nietzsche menaruh perhatian pada moralitas budak bukan karena hal itu telah membawa manusia untuk berpaling ke dalam, tetapi justru karena kita berada dalam bahaya kehilangan perjuangan batin kita. Perjuangan batin yang menyakitkan dan sulit, dan Nietzsche melihat dalam asketisme agama, sains, dan filsafat suatu keinginan untuk menyerah dari perjuangan atau untuk meminimalkan kesulitannya. Nietzsche menegaskan bahwa kita tidak boleh melihat kemanusiaan sebagai tujuan akhir yang harus diselesaikan untuk tetapi lebih sebagai sebuah jembatan untuk diseberangi antara hewan dan apa yang ia katakan sebagai istilah manusia-unggul (Übermensch). Kritik Nietzsche memang ditujukan terhadap kekuatan penyangkalan-hidup di dalam diri kita, namun kekuatan batin yang dibawa oleh moralitas budak kita sebenarnya justru juga bisa menjadi anugerah terbesar.

Nietzsche sering menyesalkan bahwa bahasa tidak mampu mengungkapkan apa yang dia ingin ekspresikan, dan dia meletakkan kesalahan prinsipal itu kepada subjek-predikat dalam tata bahasa. Karena semua kalimat membagi menjadi subjek dan predikat, kita terbuai ke dalam pemikiran bahwa realitas, juga, menghasilkan bentuk ini dan bahwa ada pelaku dan perbuatan. Dalam pandangan Nietzsche hanya ada amal-perbuatan dan tidak ada pelaku, dan hal itu sama absurdnya dengan mengatakan bahwa keberadaan seekor elang adalah berbeda dari tindakan membunuh atau mengatakan bahwa keberadaan petir adalah berbeda dari percikan cahayanya. Elang adalah tindakan pembunuhan sama seperti kilat adalah kilatan cahaya: kita adalah apa yang kita lakukan. Kita dapat mengatakan Nietzsche adalah seorang metafisika itu sendiri (bukan metafisikus) kata kerja bukan metafisika kata benda. Sementara kebanyakan para metafisikus memahami alam semesta terdiri dari banyak hal (kateori-kategori), Nietzsche justru bahwa memahami alam semesta itu sebenarnya terbentuk dari kehendak. Kita cenderung untuk percaya bahwa ada subyek yang melakukan perbuatan karena tata bahasa kita menuntut agar kita memberikan subyek untuk kata verba. Faktanya, Nietzsche menyatakan, tidak ada ‘Aku’ yang membuat keputusan dan bertindak atas mereka. Melainkan, bahwa ‘Aku’ adalah forum di mana kehendak yang berbeda menyatakan diri dalam bentuk keputusan dan tindakan. Kerumitan ini terkadang memang membuat frustrasi, baik bagi Nietzsche dan para pembacanya, sangat sulit untuk membungkus pikiran kita di sekitar gagasan bahwa tidak ada pelaku di balik perbuatan karena setiap ekspresi yang tertulis dari gagasan ini bersandar pada struktur tata bahasa yang memperkuat ide sebaliknya.


[1] Dari kata dasar: kontingen; Inggris: contingent. Dari kata kerja bahasa Latin contingere (meraba/menyentuh seluruh bagian, terjadi), dari con (dengan) dan tangere (meraba). Dalam metafisika secara umum, kontingen adalah sesuatu yang bisa saja terjadi, tetapi tidak pasti terjadi: bisa saja terjadi dan tidak tergantung pada situasi. Sesuatu yang disebut kontingen mencakup semua hal yang tidak niscaya dan yang tidak mustahil. (Loren Bagus: 1996)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s