Mon Poésie


Sayang,
Maukah kau
Relakan pagi merepas senyap bersama kisah dan kesahnya?

hadapilah siangmu!
Biarkan tungkai kurus mu yang gontai menyapa tandus tempat pijaknya
luka tetaplah luka, tapi jangan biarkan ia menganga

jika kau marah kepada takdir
marahlah kau padaku

jika kau benci kepada hidup
bencilah kau padaku

jika…

dan jika

ah! jika hanyalah angan
jangan buang hidupmu sia-sia

hampiri, dan terjanglah!

Jejak
Pondok Aren, 6 Februari 2008

———————————————————————————————————————————————————

poetes (courtesy of http://www.potomitan.info)

Pada suatu pusaran arus kita pernah dipertemukan.
sesaat pendar perbedaan sifat dan sikap, menjelma sebentuk jernih di antara kerumun keruh.

lalu mengalun setenang daun melayari permukaan kali di dasar lembah.

kini, ia mulai patuh pada takdirnya, mendekati gejolak yang berujung pada muara.
di sana, tak pernah henti gelora nan gelisah.
dimana jernih tak lagi terbedakan. ia telah melebur dengan kesejatiannya. meluap! menggelegar! membahana!

lalu aku bertanya padamu,
bisakah kita menangkap harmoni dalam kegaduhan ini?

aku pun tak siap, tak kan pernah seutuhnya siap,
ku rasa,
yang kita butuhkan hanya segenggam nyali dan kejujuran.

Sudikah Kau Letakkan Telur di bawah Telapak Kakiku?
Pondok Aren, 6 Agustus 2007

——————————————————————————————————————————————————-

deadfish (courtesy of http://www.nztramping.com)

Dalam lelipatan ombak itu telah kukubur bangkai seekor ikan,

Ia pernah kusambangi hanya dengan berkain sarung.

Jika suatu Awal adalah memang sebuah  akhir,

Maka jadilah akhir itu sebuah awal.

Diujung lidahnya membucah busa kepalsuan, terasa manis rasanya, kelewat manis sampai seorang pawang pun mabuk dibuatnya.

Kubenamkan batang keris pusaka kedalam pasir yang kusangka rumahnya.

Di bumi!

Merekahlah senja sewarna delima, menggincu langit pada sebelah ufuk.

Dilalah, dinding kamar ini melengkung melipat, ia tergulung bersama ranjangnya.

Disudut, sebatang besi membeku selaksa  jarum-jarum es di kutub yang tak pernah bertegur sapa dengan mentari.

Bangkai Ikan
Pondok Aren, 6 April, 2007

———————————————————————————————————————————————————-

Emakku bosan lihat nyamuk-nyamuk kejar-kejar kucing-   kucing budukan

dipandangnya malam tiada lagi bernyawa

lantas kereta datang bawa prahara,

seok Emakku seret-seret terompa

duhai, emak…

bilatah anak nak bikin hati mak girang?

Emak
Pondok Aren, 27 Februari, 2004

7329642_363f454f78 (courtesy of http://www.flickr.com_photos_awfulsara)

———————————————————————————————————————————————————-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s