Pernah yang tak kan pernah lagi


sebuah puisi untuk Kierkegaard dan  Beckett

Pernah,

Pada suatu ketika.

Dikala malam baru saja temaram,

Datanglah engkau datang berbalut gaun kabut kelabumu.

Pernah,

Pada suatu ketika.

Dikala subuh merah merekah,

Datanglah engkau berselimut kerudung jinggamu.

Pernah,

Pada suatu ketika,

Dikala kalutku berpeluk pada kebimbangan,

Datanglah engkau berkebaya birumu.

Pernah,

Pada suatu senjakala,

Akankah pernah kan tiada lagi?

Namun,

Datanglah, Kumohon datanglah!

Datanglah engkau dengan tubuh telanjangmu!

Pernah yang tak kan pernah lagi
Pondok Aren, 7 Januari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s